Saturday, May 2, 2009

Didiklah Dirimu....

Islam adalah agama yang kaffah, ajarannya mencakup setiap aspek kehidupan. Pendidikan sebagai bagian terpenting dalam pembentukan karakter manusia tidak lepas dari ajaran Islam.

Dalam Islam, peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya sangat besar. Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang kemudian membentuk kepribadian dan karakter anak itu. Rasulullah bersabda, “Setiap bayi terlahir dalam fitrah. Lantas kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Dalam mendidik anak, Lukman adalah teladan yang baik. Allah menggambarkan bagaimana Lukman memberikan pelajaran kepada anaknya dalam Q.S. Luqman : 13.

“Dan (ingatlah) keika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Hal pertama yang harus ditanamkan kepada setiap muslim adalah keimanan kepada Allah sebagai Tuhan yang satu yang tiada Tuhan selain-Nya. Ketika keimanan sudah tertanam kuat dalam hati seorang muslim maka akhlak dan kepribadiannya akan terbentuk dengan sempurna. Keimanan membuatnya mematuhi seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain keimanan kepada Allah, Islam juga mendidik umatnya supaya memiliki akhlak yang mulia. Akhlak terpuji sesungguhnya adalah cerminan dari keimanan dan kerakwaan seorang muslim kepada Allah. Bagi setiap muslim, Rasulullah adalah suri teladan terbaik. A'isyah pernah berkata bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Rasulullah mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya supaya berbuat baik kepada sesama muslim, bertindak adil, lemah lembut, selalu berkata jujur, berbuat baik kepada kedua orang tua dan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Hasil dari pendidikan oleh Rasulullah ini adalah sosok para sahabat yang memimpin dunia dengan keadilan. Abu Bakar, 'Umar, 'Ustman, dan 'Ali adalah pemimpin yang dididik langsung oleh Rasulullah dan mendapat sebutan Khulafaur Rasyidin yang berarti pemimpin yang mendapat petunjuk.

Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Pribadi-pribadi yang tidak hanya mengerti ajaran Islam tapi mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mukmin akan melandaskan setiap pilihan, perbuatan, tindakan, sikap, cinta, benci, hingga penampilan pada Al Quran dan Sunnah. Dia mencintai dan membenci karena Allah. Kemarahannya bukan karena orang berbuat buruk kepadanya, namun karena perintah Allah dilanggar. Orang-orang seperti ini jika memimpin akan memimpin dengan adil, tidak memperkaya diri dari uang rakyatnya, tidak mengumbar janji kosong yang tidak dapat ditepati. Karena orang-orang seperti ini -orang-orang yang beriman- menganggap jabatan sebagai pemimpin adalah amanat yang berat.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, namun mengapa kezaliman masih terjadi di mana-mana? Jawabannya sederhana, karena muslim Indonesia tidak dididik dengan keimanan dan akhlak mulia Rasulullah. Muslim Indonesia dididik dengan hedonisme dan materialisme. Sering terdengar kata-kata, “Kuliahlah kau dengan baik nak, lalu carilah pekerjaan dengan gaji besar.” Atau yang ini, “Aku akan membeli rumah besar dengan gajiku yang banyak, hahahaha...” Tidak terbersit dalam hati mereka tentang anak-anak yang menukar masa bermain mereka dengan sesuap nasi, menjual ciri mutu (tanya orang Jawa apa artinya) di perempatan-perempatan kota Bandung, menatap mata sombong orang-orang kaya dari balik kaca mobil di bawah bangunan menjulang milik beberapa orang yang terlalu egois untuk melihat nasib orang lain.

Bangkitlah wahai saudaraku, didiklah diri kita dengan Islam. Karena predikat seorang muslim adalah predikat yang prestisius dan penuh tanggung jawab. Muslim lah yang akan membawa keadilan dan kedamaian di muka bumi. Jadilah muslim yang sebenarnya, lalu berdirilah, tataplah mata mereka yang tidak mengerti, dan berteriaklah, “Saksikanlah wahai seluruh dunia, bahwa aku seorang muslim!”
Wallaahu a'lam bishawwab.

2 Mei 2009
Kost-kostan tercinta

Friday, April 17, 2009

USM....

Tadi siang ketika berjalan menuju kampus, aku melihat pemandangan yang juga kulihat hapir satu tahun lalu. Penjual bundel soal USM ITB menawarkan barang dagangan mereka kepada adik-adik SMA yang berniat masuk ITB lewat jalur USM. Dahulu aku belajar dari bundel serupa, namun kenyataanya, soal USM jauh berbeda.

Konon soal USM ITB dibakar setelah tes berakhir. Jadi siapa saja yang memiliki sampel soal USM ITB pasti akan melegenda (lebai...). Yang jadi pertanyaanku, darimana bapak-bapak penjual itu mendapatkan soal USM?

Nyatanya soal bundel bukanlah soal USM, juga bukan prediksi soal yang mirip. Yang menjadi korban biasanya peserta dari daerah yang tidak tahu apa-apa. Begitu melihat kumpulan soal, langsung dibeli dengan harapan mendapatkan pola soal USM. Mereka tidak tahu bahwa soal-soal tersebut tidak valid digunakan sebagai acuan belajar menghadapi USM.

Menurutku, soal bundel lebih sulit dari soal USM sebenarnya. Soal bundel mirip soal-soal SPMB atau soal UM universitas lain (dengan tingkat kesulitan lebih rendah). Tapi soal USM lebih mudah lagi karena tingkat kesulitannya hanya sedikit di atas UAN.

Fenomena menarik lainnya menjelang USM adalah munculnya penjual materai, penjual map merah, dan jasa sewa baju berkerah. Sekadar informasi, mengikuti USM membutuhkan materai 6000 minimal sebanyak 2 buah kalau diterima di ITB bisa sampai 6 buah. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para penjual materai musiman. Mereka memanfaatkan beberapa peserta yang kurang persiapan atau lupa menempel materai.

Selanjutnya penjual map merah, yang ini aku agak tidak suka. Pasalnya mereka menawarkan map yang sebenarnya tidak dibutuhkan dengan harga tinggi. Peserta yang tidak pede akan termakan bujuk rayu penjual itu, membawa map ke dalam sabuga, kemudian membawa pulang kembali map itu.

Yang terakhir lebih konyol. Peraturan dalam pengembalian formulir adalah berpakaian sopan, minimal baju berkerah dan alas kaki tertutup, yang tidak memenuhi syarat berpakaian ini dilarang mengikuti pengembalian formulir. Tapi namanya juga manusia, banyak juga yang tidak mengenakan baju berkerah. Di saat genting begini muncullah jasa penyewaan pakaian berkerah. Bagaikan pahlawan saja.

Itulah serba-serbi USM. Jika ada yang berniat mengikuti USM aku anjurkan melakukan persiapan matang baik secara administratif maupun secara mental hehe....

Bandung 17 April 2009 19.18
Samping Comlabs ITB
di sebelah tanaman merambat

Sunday, April 12, 2009

Furenzu (Friends)

While we wore the same smiles,
We passed through the years together.
The sceneries kept changing,
And we struggled to accept it.

I throw away my useless pride.
May kindness come to this world.

I Gotta Say
Even if I show off my bravery and my strength,
I can't survive alone.
Our promise from that day,
It remains firmly in my heart, even now.

New encounters come after each farewell.
I find light down a new path, and move on.
Since the day I was born,
That has been the way my life is molded.

Before we realized it,
We have both found our own futures.

I Gotta Say
Even if you are far away where I can't meet you,
There's a resilient bond between us.
"May my dreams come true."
I am praying from the bottom of my heart.
We're friends forever.
We pledged to meet again someday,
Crossed our little fingers,
And set out that day,
For unseen destinations,
And though we may be lost,
We are making progress,
Always.

Through the changing seasons,
And this fleeting moment,
I listen to these nostalgic melodies.
Even when I become an adult,
Some things won't fade,
Like our precious memories.

I Gotta Say
Even if I show off my bravery and my strength,
I can't survive alone.
Our promise from that day,
It remains firmly in my heart.

As life goes on...
I mustn't forget, yeah.
Don't let it go...
I remember this vast land and my friends.
(Gundam 00 Ending 02)

Salam hangat dan kangen buat mereka yang memberiku arti hidup: Maman, Aji, Dwi; yang mengajariku tentang persahabatan: Gilang, Fafa; yang memperlihatkan tekad kuat dan kegigihan: Ariana, Izul;
Semoga kita bertemu di taman yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, yang buah-buahannya dekat, kita bertelekan di dipan-dipan, minum dari gelas perak, minumannya khamr yang tidak memabukkan....

Sunday, March 22, 2009

8 Bulan dan 1 Bulan

Sudah hampir delapan bulan aku hidup di Bandung demi menuntut ilmu. Tapi tidak semuanya kulalui dengan semestinya.

Lebih dari enam bulan aku jalani kehidupan di Bandung tanpa tujuan yang jelas. Setiap hari berangkat kuliah, mengerjakan tugas kelompok, dan praktikum berjalan begitu saja. Tidak ada yang baru. Bila aku mempunyai waktu luang hampir dipastikan akan kuhabiskan di depan laptop kesayanganku, bermain PES 2009 sendirian atau bersama teman. Kalau sudah bosan giliran film-film terbaru dan anime kusaksikan.

Aku yang dahulu seorang organisatoris kini berubah menjadi introvert dan skeptis. Tidak tergabung dalam unit kegiatan sungguh memalukan tapi aku menikmatinya. Aku menikmati kesendirianku, tak peduli dunia luar, bahkan tak peduli mau jadi apa aku. Bisa dikatakan tidak ada kegiatan positif di luar kuliah yang kuikuti. Dengan kata lain, aku sebulan yang lalu masih sama dengan aku delapan bulan yang lalu. Tidak berkembang, terutama secara emosional. Sungguh menyedihkan.

Sebenarnya tidak ada yang salah. Aku tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum, merugikan orang lain, atau merusak fasilitas umum. IP ku semester ini bagus dan memuaskan walaupun belajar ogah-ogahan. Apa yang salah? Benarkah semua baik-baik saja? Ataukah.....

Hingga suatu saat kakak angkatan bertanya padaku,“Sedang sibuk di mana nih?” Malu-malu kujawab bahwa aku sedang tidak aktif dalam organisasi apapun. Aku malu karena kakak yang satu ini kegiatannya seabrek. Aku melihat guratan kecewa dalam wajahnya. “Mahasiswa yang hanya belajar saja tidak berkontribusi kepada masyarakat, tidak bermanfaat,” ujarnya. Terus terang ucapan beliau ini membekas dalam hatiku. Terlintas dalam ingatanku mengenai hadis Nabi mengenai manusia yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik. Apakah aku termasuk di dalamnya? Jauh panggang dari api....

Ya kawan. Tidak bermanfaat. Cukup dua kata untuk mendeskripsikan kehidupan awalku di Bandung. Belakangan kusadari bahwa ada sesuatu dalam diriku yang menolak gaya hidupku yang sekarang. Ada dorongan kuat untuk kembali aktif. Aktif kembali dalam komunitas, mencoba memberikan manfaat pada masyarakat. Melepas jauh-jauh ketidakpedulian dan keegoisan. Kemudian bagaikan mendengar kata hatiku, muncul orang-orang luar biasa dihadapanku. Apa yang membuat mereka luar biasa bukanlah harta, intelegensi, maupun penampilan mereka. Tapi kepedulian mereka terhadap sesama dan kesadaran mereka tentang realitas kehidupan. Bagaikan memiliki frekuensi yang sama, mereka sedikit demi sedikit menarikku keluar sari kehidupan stagnanku selama ini.

Dan sudah sebulan aku bergaul dengan mereka. Setidaknya aku menemukan sebuah komunitas yang akan menjagaku. Menjagaku dari mimpi buruk mengenai keegoisan dan ketidakpedulian. Buat seluruh kawanku yang membaca artikel ini, jadilah orang yang bermanfaat. Tebarkan kebaikan di sekitar kalian. Karena kita sesungguhnya tidak hidup sendirian.....

Thursday, February 19, 2009

Renungan Tukang Iklan

Diambil dari milis siar dari milis sebelah.... Met membaca.

True friendship is like sound health; the value of it is seldom known
until it be lost."
- Charles Caleb Colton

Persahabatan tak mutlak diukur dengan pencapaian materi. Perhatian, respek dan 'genuine care' sudah lebih dari cukup.

Aku jadi teringat ketika di undang ke rumah client, aku terpesona melihat istrinya yang cantik, anaknya juga cantik-cantik, rumah yang ditempati di daerah Perdatam, Pasar Minggu membuat aku berdecak kagum. Dalam hati aku cuma bisa mbatin, hebat amat orang ini. Betapa iri aku menyaksikan kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya.

Aku tersipu malu, ketika client bisa menebak isi hati. "Mas eki, jangan silau melihat segala sesuatu yang terlihat. Tampaknya indah dipandang mata ya ki," katanya sambil mempersilahkan aku masuk ke ruang tamu.

Mulai dari teras, melintasi garasi, masuk ke ruang tamu dan melirik ruang keluarga, waaah ngak kebayang dari mana diperoleh kekayaan sebanyak itu. Dibandingkan dengan aku yang pontang-panting kerja kreatif, sampe lembur setiap hari atau dapat side job setiap bulan, bahkan punya perusahaan periklanan dengan billing milyaran pun nggak bakal ke kumpul deh.

Aku beruntung dipertemukan client seperti ini, lebih beruntung lagi dia ngebocorin rahasianya.. .

Dia dapat amanah dari orang tuanya, setiap ketemu orang tampakkan wajah berseri, senyum dan usahakan mejalin persahabatan tanpa pandang bulu, tanpa sekat, tanpa kasta tanpa derajat, tanpa status sosial, tanpa membedakan agama, tanpa melihat kultur budaya dan segala macam atribut yang menempel dalam diri manusia.

Nasehat itu dijalani sejak masih kecil, masa kuliah dan sampai sekarang, (buktinya, aku yang ngaku orang kratif aja diundang ke rumahnya ya..) "Eki, persahabatan itu menjalin silahturahmi" katanya sembari mengambilkan minuman sendiri tanpa menyuruh pembantunya. (padahal ada pelayan atau pembantu tuh), "Tamu harus dihormati, jadi kalau saya yang melayani tamu, insya Allah dapat catatan nilai atas perbuatan saya kan ki," (ya ampuun, aku jadi malu ketika teh hangat sudah tersaji di atas meja).

"Begitu pun dengan persahabatan, diniatkan untuk memberi sesuatu kepadanya, misalnya dengan berempati, peduli, membantu, menolong atau untuk maling memberi manfaat, bukan memanfaatkan lho ki, apalagi mengekploitasi persahabatan. "

"Kalo kita bersahabat untuk mendapat sesuatu dari sahabat, itu namanya ada pamrih. Kata orang tuaku, pantang berpamrih dalam bentuk apapun, kepada siapa pun bahkan kepada Tuhan sekali pun. Biarlah yang Maha Tahu menilai ketulusan persahabatan yang kita jalin, insaya Allah kalo hati tulus, bersih, ihklas Tuhan pun akan melihat, sebagai imbalannya mungkin memberi bonus keberkahan yang tidak disangka-sangka dari arah mana datangnya, mungkin dalam bentuk rejeki yang tidak kita minta dengan berdoa sebelumnya" ucapnya, seraya mempersilahkan aku minum.

"Eki, kamu lihat kantor saya mewah di kawasan bisnis megah gedung Arta Graha lantai 22 dengan memperkerjakan banyak karyawan dan orang-orang asing, rumahku lebih baik dibanding tetanggaku, istriku menarik dipandang mata, sesungguh itu bukan punya saya lho ki..."

"Lho kok bukan punya bapak? Maksudnya gimana?" Tanyaku heran. "Segala sesuatu, kalo kita merasa memiliki, hati-hati lho... kalo sesuatu itu pergi, bakalan sakit hati kan. Sesuatu itu bukan milik mutlak punya saya, sesuatu itu milikNya yang setiap saat akan diambil olehNya." ujarnya menjelaskan.

"Sesuatu itu, ki. Berdimensi luas tak terbatas, bisa berupa karya kreatif, lancar cari ide, bikin iklan mendapat penghargaan di Pariwara yang meningkatkan penjualan produk client, bisa kekayaan, boleh jabatan, wajah catik, tampang keren rupawan, nikmat kesehatan, kesabaran dalam penderitaan dan kemiskinan, pokoknya segala sesuatu yang terasa di hati dalam bentuk kebahagiaan atau kesedihan berkepanjangan sekali pun itu bukan milik kita. Itu milikNya yang dihadirkan kepada manusia, apakah dia bersabar atau bersyukur... " kata clientku tanpa bermaksud berdakwah.

Aku terdiam, termenung dan mengingat kalimat "Segala sesuatu milik Tuhan akan kembali kepada TuhanNya" Aku memandangi wajahnya yang menyejukan, dari tampilan usianya sekitar
40 tahun memasuki 50 tahun... "Eki, bagi saya umur bukan ukuran, saya sudah 65 tahun, standar nilai dihadapanNya hanya 'Ketakwaan', dengan tubuh saya yang sehat atau mendenderita sakit, tidak ada bedanya. Dalam kondisi apapun orang tua saya berpesan untuk tetap konsisten mengabdi kepadaNya dan komitmen dengan rule of life yang sudah ditentukan olehNya melalui kitab-kitabNya dan dicontohkan Nabi-nabiNya. "

Aku teringat ayat" Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu" dan "Sesungguh sholatku, hidup dan matiku hanya untuk Allah."

"Nah, ki. Kamu sebagai orang kreatif, banyak-banyak mendekatkan diri kepada Yang Maha Kreatif, Yang Maha Pencipta" ujarnya memberi saran dengan mempersilahkan aku minum, aku nggak sadar kalo di atas meja hanya ada satu gelas teh hangat.

"Maaf ya eki, aku sedang puasa." ucapnya dengan permohonan maaf yang dalam. "Lho bukan bulan Ramadhan, dan bukan hari Senin atau Kamis. Ini hari Rabu kan, pak?" tanyaku penasaran. "Iya...Ki. Selain yang sudah dicontohkan oleh Nabi... saya hanya ingin mendekatkan diri kepadaNya, sejak masih muda saya sudah puasa mulai hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis, sedang Jumat, Sabtu dan Minggu saya makan biasa bersama sahabat-sahabat saya, bertemu dengan sahabat bersilatarahmi, bersinergi, saling berbagi seraya mengharap ridho Illahi Rabbi...."


Wednesday, February 11, 2009

Generasi Rabbani

“….Akan tetapi (dia berkata): ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’

(QS. Ali Imron:79)

Ada dua ciri yang manandai kelompok rabbani, yaitu kebiasaannya untuk senantiasa mengajarkan al-Qur’an kepada umat dan kesediaannya untuk selalu belajar dan mengajar. Mengajar dan belajar adalah dua aktivitas yang berbeda tetapi dijadikan satu paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Individu Rabbani adalah aktivitas dakwah yang tugas sehari-harinya adalah membacakan, menyebarluaskan, dan memberikan pencerahan terhadap pemahaman umat atas ajaran agamanya. Dari pintu ke pintu, dari masjid ke masjid, dari pengajian ke pengajian, dari kantor ke kantor. Mereka tak bosan-bosannya menyampaikan isi kandungan Al-Qur’an. Tak kenal istilah lelah, juga tak kenal kenal kata meyerah, kegiatan itu dilakukan dengan semangat yang mengebu-gebu dengan hati yang ikhlas semata-mata mengharapkan keridhoan Alloh SWT, dan jiwa besar atas segala rintangan yang menghadang.
Jiwa besar dan kesabaran para aktivis dakwah ini menjadikan mereka senantiasa optimis dan energik. Seolah-olah mereka mempunyai “energy berlebih”. Orang menyebutnya “tak ada matinya”. Selalu tersedia energy yang besar untuk menyampaikan isi dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

Lalu, cukuplah dengan semangat saja? Keyakinan yang melahirkan optimisme dan semangat yang menggebu-gebu adalah energy penggerak yang sangat vital dalam system kehidupan untuk melahirkan sebuah karya. Tetapi karya yang sempurna baru akan tercipta dari sebuah keyakinan yang benar dan ilmu yang memadai. Sebuah maha karya manusia yang disebut dengan peradaban adi luhur baru akan lahir dari sebuah sinergi yang solid antara keyakinan (iman), ilmu, dan amal.

Di tengah kesibukan berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran kepada umat, setiap mujahid dakwah dituntut meluangkan waktu untuk belajar. Banyak cara untuk belajar, mulai dari membaca buku (cetak maupun elektronik), belajar kepada ulama dan para cendikiawan (melalui diskusi atau seminar), maupun belajar secara formal di sekolah maupun perguruan tinggi. Salah satu penyakit mubaligh adalah “gemar berceramah tapi enggan diceramahi”. “mau mengajar tapi segan belajar”.”suka bicara tapi sulit mendengar”. inginnya didengar tapi tidak mau mendengar pendapat orang lain. Kalau memberikan khutbah jum’at berapi-api, tetapi ketika mendengar khutbah justru tertidur.

Sungguh aneh jika ada sebagian dai hanya mengandalkan ilmu yang diperolehnya semasa di madrasah atau di bangku kuliah sebagai bahan ceramah berpuluh-puluh tahun. Seolah-olah iluu yang sedikit itu telah dianggap cukup sebagai capital (modal) selama-lamanya. Padahal dunia terus berubah, dan perubahan masyarakat kita juga sangat dinamis.

Sungguh menarik ayat di atas, selain mengharuskan kita untuk giat berdakwah, menyebarkan islam kepada dunia, kita juga diwajibkan untuk istiqomah dalam belajar dan menuntut ilmu. Dengan ilmu itu kita perbaiki kesalahan dan kekurangan kita, lalu kita sajikan dakwah yang lebih menarik, lebih kreatif, dan lebih bervariasi. Wallahu’alam bishawab.

Diambil dari email kakak angkatan dalam milis siar,
Sumber : majalah Hidayatullah edisi Desember 2008, halaman 12.

Wednesday, February 4, 2009

Sifat Fisik Larutan di Balik Dinginnya Kehidupan

Planet kehidupan, demikianlah bumi diciptakan. Bumi diciptakan sedemikian sehingga kondisinya mendukung segala jenis kehidupan. Di puncak gunung himalaya, di tengah gurun pasir, di balik kegelapan samudera, di antara pepohonan hutan tropis, hingga di bawah lapisan es di daerah kutub, ada saja makhluk hidup di sana.

Kehidupan di daerah yang dingin atau di daerah yang mengalami musim salju menyimpan keajaiban. Begitu rendahnya temperatur menyebabkan permukaan sungai-sungai danau-danau, dan laut membeku. Bagaimana dengan ikan-ikan yang hidup di sana? Akankah mereka mati dalam ganasnya iklim? Subhanallah, let me show you how our Lord give them the way to stay alive.....

Perairan terutama air laut mengandung garam-garaman dan berbagai zat lain yang terlarut di dalamnya. Seperti yang dipelajari di kelas tiga SMA mapel kimia, bab sifat koligatif larutan, zat-zat yang terlarut akan mempengaruhi sifat fisik dari pelarutnya. Sifat yang dipengaruhi yaitu tekanan uap jenuh, titik beku, kenaikan titik didih, dan tekanan osmosis. Perubahan ini tidak dipengaruhi oleh jenis zat yang terlarut tetapi oleh konsentrasi zat terlarut, semakin besar konsentrasi zat terlarut, semakin signifikan perubahan sifat yang terjadi. Air laut mengandung sejumlah besar garam, dimana garam ini menyebabkan penurunan tekanan uap jenuh. Hal ini kemudian menjadikan titik didih larutan naik dan titik didihnya turun. Bagaimana hal ini terjadi? Let we see....

Tekanan uap adalah tekanan dari uap suatu zat diatas permukaan fasa cairnya. Jadi tekanan uap air laut adalah tekanan dari uap air di atas permukaan air laut. Tekanan uap jenuh adalah tekanan maksimal yang dapat dicapai oleh suatu zat cair. Sedangkan titik didih adalah suhu di mana tekanan uap mencapai besar yang sama dengan tekanan udara luar. Itulah sebabnya air mendidih di bawah 100 derajat celcius pada daerah dengan teanan udara kurang dari 1 atm, di pegunungan misalnya.

Air murni akan mendidih pada suhu 100 derajat celcius, tetapi jika kita larutkan sesuatu (gula misalnya) maka titik didihnya akan naik. Semakin banyak gula yang dilarutkan semakin besar kenaikan titik didihnya. Sebaliknya, pelarutan gula juga menurunkan titik beku air. Fenomena ini terjadi tidak hanya pelarutan gula dalam air, namun juga pada larutan lainnya. (ex. larutan garam, larutan organik dalam benzena, dll.)

Kandungan garam di laut cukup tinggi sehingga tidak membeku pada musim dingin, kecuali laut di kutub utara dimana suhunya ekstrim dingin. Tidak seperti laut, permukaan danau dan sungai membeku di musim dingin karena kandungan zat terlarutnya tidak setinggi air laut, sehingga penurunan titik bekunya tidak cukup untuk menahannya pada fasa cair. Tapi pembekuan berhenti pada permukaannya saja, tidak berlanjut hingga seluruh bagian sungai atau danau. Mengapa???

Ketika permukaan air membeku, zat-zat yang tadinya terlarut pada permukaan berpindah ke bagian perairan di bawahnya yang lebih dalam. Akibatnya, konsentrasi zat terlarut di perairan meningkat, air semakin pekat dengan berbagai zat. Efek selanjutnya berupa penurunan titik beku perairan sehingga proses pembekuan tidak berlanjut pada perairan yang lebih dalam. Fenomena ini menjaga kehidupan perairan tetap eksis karena pembekuan hanya terjadi di permukaan saja. Ikan-ikan dan makhluk hidup yang lain tetap melanjutkan kehidupan mereka di perairan yang lebih dalam.

Begitulah cara alam bertasbih menyucikan Allah, zat yang menciptakan mereka dan menciptaan manusia. Walaupun begitu, manusia tetap saja tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Wallahu a'lam bishshawab.